mau ini itu

maunya sih orang yang bisa ngelumerin suasana gitu,
soalnya gua orangnya lemah, gampang stress.
maunya sama orang yang bisa dianggep temen berantem
kan banyak tuh yang ngga bisa diajak main main
maunya seriusan, lembut lembutan
yang suka aku kamu
sayang sayangan
idih banget
geli gua hahaha
mending nyat nyet nyat nyetan
kambing babat sayuran
oya, dan gua bukan tipe orang yang suka digombalin.
loh terus nunjukin care nya gimana? ngasih kodenya gimana?
gua sukanya kek gini kalo mau nunjukin care, atau kodean misalnya nih ya
a: ga usah ngejekin gua, ntar lu cinta lagi. haaa
b: udahlah, ntar gua cinta bener ke elu, elunya malah keblinger
a: ah pede bgt lu
b: kenapa emang? takut lu?
a: siapa bilang gua takut? lu kali yang takut
b: gua takut? berani kok
hahaha
banyak maunya ya~

demen dicurhatin

Setua apa pun, manusia butuh temen cerita, didengarkan ceritanya (dibaca curhat). Meski sebenarnya sudah tahu yang harus dilakukan, tetep aja butuh seseorang yang ngasih masukan. Bukan gak paham, tapi sebagian ada yang merasa gak yakin dengan hal yang harus dilakukan. Yang curhat butuh lebih diyakinkan. Yang curhat biasanya juga rela-rela aja didodol-dodolin sama yang diajakin curhat.

nih contohnya

sometimes, something is better left unsaid

For everytime I wrote about someone and you think it may be you when its not, let it be a mystery.

And for every words I told you, it may be an honesty, but sometimes it kept a little secret, so let it be a mystery.

Every smiles I gave to you, it may because I’m a kindhearted woman. But sometimes you didn’t know if it was just a sneer, so let it be a mystery.

And this may seems poetic but you just don’t know if this may be an expression of sad feeling, so let it be a mystery.

Because sometimes, something is better left unsaid.

that’s why I do love midnight so much

http://s6.favim.com/orig/65/cute-decorate-fisheye-laptop-Favim.com-583359.jpg

Emang bener kata orang, semakin malem itu tingkat kejujuran semakin tinggi. Kenapa ya? Mungkin karna malem itu, especially tengah malem loh ya, di saat semua orang udah tidur, yang terdengar hanya suara hati lu dan suara hati org yg lu ajak ngobrol. Gak ada suara lain! Suasana semakin hening dan mendadak romantis. Lalu ketika lu ngobrol, akan ada curhatan-curhatan yang ngalir, yang kalo diutarakan waktu siang itu lu gak akan bakal jadi deh mau bilang. Beda gitu rasanya. And that’s why I do love midnight so much! Kadang gue sengaja g tidur, nungguin tengah malem, hanya karna mau nulis di blog. Kenapa? Karna kalo siang itu terlalu banyak gangguan, otak rasanya gak begitu fungsi buat nyusun kalimat-kalimat yang datengnya bener-bener dari hati. Ya lebih kurang gitu deh.
Hmm, ngomong-ngomong ini beneran udah maleeeem bgt dan gue blm juga tidur. Semakin malem melek, semakin ga bisa tidur. Ini emang kebiasaan sejak jaman dulu. Tapi bukan berarti gue gila begadang juga ya. Sebenernya ini kepala udah agak mabok si, tapi kayaknya ni mata masih seger belom mau dimeremin.
Hmm, andaikan si oknum  MF masih ada. Hahaha.

MENERAWANG LUBANG KESADARAN

Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah…

Hari pertama anak itu telah memakukkan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah… Lalu secara bertahap jumlah itupun akhirnya berkurang setiap harinya. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku itu ke pagar.

Akhirnya, tibalah hari dimana anak tersebut merasa benar-benar bisa mengendalikan amarahnya. Dia memberitahukan hal itu kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak merasa marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya kembali bahwa semua paku itu telah tercabut dari pagar olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke dekat pagar dimana dia mencabut semua paku yang tertanam olehnya.

“Kamu telah berhasil dengan baik anakku.. tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar ini.. Pagar tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Sama halnya seperti ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang bekas paku ini… di hati orang lain.

Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu kembali.. Tetapi tidak peduli berapa kali kamu meminta maaf, luka itu akan tetap ada.. dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik..”